Halo, Semuanya,
Sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada kita. Karena tingginya permintaan, tahun 2026 ini tidak hanya ada satu, melainkan dua pembaruan anti-cheat berturut-turut. Seperti biasa, sosok yang mengetik ini (ditemani cahaya lilin dan suara hujan) adalah Phillip “mirageofpenguins” Koskinas, hasil eksperimen sains pertama dalam menciptakan manusia yang mampu mengubah sanksi ban menjadi energi. Namun, tidak seperti biasanya, artikel ini tidak akan membahas “cheater” pada umumnya.
Kali ini kami akan membahas upaya memerangi praktik Manipulasi Rank di League of Legends dan VALORANT. Lebih khusus lagi, kami akan membahas sistem deteksi yang sedang terus disempurnakan agar para booster kembali menggunakan akun aslinya untuk seterusnya. Meski tampak sederhana, kenyataannya sulit bagi sebagian cheater untuk secara konsisten menghadapi lawan yang sepadan dengan tingkat keahliannya. Karena itulah kami bertekad membantu mereka melalui teknologi “Anti-Boost” Vanguard.
Anti-Boost Vanguard
Sistem Anti-Boost Vanguard pertama kali diluncurkan secara privat di League of Legends pada September 2025, dan digunakan dengan sangat efektif oleh Drew Levin yang luar biasa. Sistem ini merupakan lapisan klasifikasi yang mendeteksi saat sejumlah besar poin ranked suatu akun (“boostee”) diperoleh dengan bantuan pemain lain yang keahliannya lebih tinggi (“booster”) dengan log in ke akun tersebut. Pemain “joki” ini bermain jauh melampaui tingkat keahlian pemilik akun aslinya, dan sering kali bermain bersama pemain lain yang kemampuannya lebih rendah (“hitchhiker”) untuk mengangkat mereka ke Challenger. Setelah hampir satu tahun menjalani uji coba beta di League, VALORANT juga kini mengadopsi sistem tersebut, sehingga efektivitasnya meningkat dua kali lipat.

Saat pemain log in ke akun yang bukan miliknya, mereka untuk sementara menyembunyikan rating aslinya dari algoritma matchmaking game, sehingga ditempatkan dalam pertandingan menghadapi lawan yang kurang berpengalaman. Ada berbagai alasan mengapa hal itu dilakukan (sebagian besar tidak terpuji), tetapi hasil akhirnya jelas terbaca oleh pengklasifikasi mesin modern: sebuah akun menghilang dari satu lokasi, muncul di lokasi lain, lalu mendominasi lawannya dengan telak, mirip seperti pria dewasa berusia 30-an yang bermain T-Ball. Dia bisa saja terus mencetak "home run", tetapi jika diperhatikan, tidak ada seorang pun ibu yang bersorak menyemangatinya, termasuk ibunya sendiri.
Jadi, ketika Vanguard mendeteksi bahwa sebuah akun memperoleh rating dengan cara ini, kami mengambil beberapa tindakan.
Pertama, poin ranked atau reward ranked yang didapatkan oleh “booster” akan dicabut; akun yang “di-boost” akan dikembalikan ke rating-nya semula dan ditangguhkan sementara, dengan durasi sanksi yang makin lama untuk setiap pelanggaran (mulai dari tiga hari hingga tiga abad).
Jika akun pelanggar itu adalah hasil pembelian atau tidak memiliki pemilik asli (“smurf”), akun tersebut akan di-ban selamanya, karena akun yang rank-nya dimanipulasi seperti itu tidak bernilai sama sekali bagi ekosistem kompetitif.
Kedua, jika perilaku ini merupakan kebiasaan seorang “booster” yang diketahui identitasnya, dan jika booster tersebut memiliki akun “utama”, kami juga akan menjatuhkan sanksi penangguhan yang makin berat terhadap akun utamanya, supaya mereka mencari hobi lain, seperti filumeni atau mungkin zumba.
Terakhir, “hitchhiker” yang berulang kali menumpang bermain bersama smurf atau booster akan diperlakukan sama. Mereka akan kehilangan rank yang tidak sepantasnya itu, meski diperoleh tanpa sepengetahuan mereka (yang sebenarnya kecil sekali kemungkinannya). Kamu tidak berhak menyimpan medali jika salah satu tahap estafetnya dijalani oleh orang yang kekuatannya 30% lebih besar dari yang semestinya.
Sejak akhir tahun lalu, kami telah menindak 296.416 akun yang melakukan manipulasi rank di VALORANT maupun League of Legends, padahal kami bahkan belum mengerahkan upaya maksimal. Kami akan meningkatkan intensitas penghapusan rank dalam beberapa bulan mendatang. Karena itu, kami mendorong semua pemain agar menggunakan dan mengutamakan cara klasik, yaitu meningkatkan keahlian untuk menaikkan rank. Jadi, cara termudah untuk menghindari penangguhan akun itu sangatlah sederhana: mainkan game ranked menggunakan akunmu sendiri, dan bergabunglah dalam tim yang semua pemainnya juga menggunakan akun sendiri.
Kenapa?
Pertama, kami tidak ingin waktu yang dicurahkan pemain dalam game jadi kehilangan nilai intrinsiknya atau terasa sia-sia. Di Riot, kami suka teh hitam dan game yang adil. Olahraga terbaik punya daya tarik kuat justru karena tingkat kesulitannya tinggi. Penguasaan yang diraih dengan susah payah tidak boleh diremehkan dengan adanya kemenangan yang bisa dibeli. Sebagai studio game, kami tentu lebih suka jika pemain terus bermain, dan cara terbaik untuk mewujudkannya adalah dengan memberikan imbalan yang benar-benar sepadan.
Namun, alasan terakhirnya juga karena masalah akun sekunder sudah mulai agak tak terkendali.

Grafik di atas menunjukkan persentase akun ranked aktif harian di League maupun VALORANT yang pemainnya secara teknis tidak menggunakan akun “utamanya”. Ya, kamu tidak salah baca: sekitar ~9% akun yang digunakan dalam mode *Ranked* setiap harinya dikategorikan akun sekunder. Angka ini juga mencakup akun yang digunakan bersama atau dicuri oleh pemain lain pada hari tersebut. Di sini, kamu bisa melihat beberapa tanggal penting: (1) tanggal Anti-Boost mulai diterapkan pada setiap game, dan (2) tanggal VALORANT memberlakukan persyaratan MFA Ranked untuk akun yang tidak dimiliki sendiri atau digunakan bersama.
Sebelum Anti-Boost diluncurkan, tingkat penggunaan akun sekunder perlahan meningkat. Hal ini sebagian disebabkan karena smurfing itu sendiri pada dasarnya saling berlomba-lomba menuju titik terendah. Saat pertandingan terasa makin tak adil, makin banyak pemain terdorong untuk membeli akun atau layanan boost agar bisa mengimbangi. Hal ini memicu tren yang oleh para ahli statistik disebut “Bad Line”. Namun, akan lebih baik bagi sistem matchmaking maupun bagi pemain baru jika semuanya bermain menggunakan akun utama. Karena itu, kami ingin membalikkan tren tadi (mengalikannya dengan -1, atau bahkan -2 jika dimungkinkan oleh teknologi).
Ban Saja Semuanya
Oke, aku suka semangat dan ketegasannya, tetapi tidak semua akun sekunder itu sama. Lebih dari 50%-nya kebanyakan tidak berbahaya, dan menghapus semuanya begitu saja justru akan berdampak buruk bagi game (maupun antrean tiket player support).

Di sini, kamu bisa lihat sebaran berbagai jenis akun sekunder dari waktu ke waktu. Hal yang terlihat jelas dalam grafik ini adalah Anti-Boost sengaja tidak menargetkan akun “alternatif” yang tidak dibagikan kepada pemain lain (warna kuning). Kami justru menargetkan akun hasil pembelian (“smurf” warna merah) atau akun yang digunakan bersama-sama (“boostee” warna oranye), karena memang itulah cara utama yang digunakan untuk mencuri rank. Selain itu, ada juga beberapa alasan kuat untuk pilihan tersebut.
Akun Alternatif yang Tidak Merugikan
Sejujurnya, seperti banyak filsuf hebat zaman dulu, aku adalah penganut paham satu akun tanpa kompromi. Bagiku, pengalaman kompetitif terbaik itu lahir dari turnamen yang semua pesertanya setara dan punya satu identitas yang kita dukung bersama dalam liga yang mereka ikuti berkat kemampuannya sendiri. Bagaimanapun juga, saat pemain beralih menggunakan akun alternatif, mereka menurunkan bobot tantangannya.
“Bro, berhentilah menyembunyikan atribut kebesaranmu demi farming pemain pemula. Itu memalukan.”
- Socrates, 449 SM
Yang membuat masalah ini lebih sulit diatasi adalah tidak semua akun dibuat dengan tujuan untuk mengakali matchmaking atau menghindari hukuman ban. Meski kami tetap berharap setiap pemain menggunakan satu akun saja (pada akhirnya), pemberian hukuman langsung bukanlah solusi untuk beberapa kebutuhan pemain berikut ini:
Melatih strategi baru atau mencoba Champion/Agen baru dalam lingkungan kompetitif
Menjaga rekor tertinggi akun utama, tetapi ingin tetap bisa berlatih menggunakan akun dengan rank yang setara
Akun “tim” untuk berlatih sebagai grup berlima yang solid dan rutin bermain bersama
Anonimitas yang lebih tinggi, khususnya bagi figur publik yang sering menjadi sasaran trolling dalam game
Akun “One Trick” yang hanya berfokus secara intens pada strategi atau role tertentu (seperti godaan menggunakan AP Graves)
Mengejar rank tinggi untuk kedua kalinya, sesuatu yang terdengar gila bagi yang pernah bermain di mode ranked walau hanya sekali
Menjalani kehidupan ganda dengan berpura-pura menggunakan aksen British saat berkomunikasi dan memakai nama samaran “Barnaby”
Jadi, jika kamu membuat akunnya, menaikkan levelnya sendiri, dan tidak pernah membagikannya kepada orang lain, kami anggap itu akun “alternatif” yang bersih, alami, tanpa rekayasa genetika. Selama kamu tidak menyalahgunakan akun alternatif untuk membantu pemain lain naik rank dengan cepat (“hitchhiking”) dalam bus rombongan, pada akhirnya game-lah yang akan menempatkanmu pada rank yang sesuai. Sebaiknya naikkan dulu rank akun alternatifmu sebelum mulai bermain bersama teman-teman. Jika tidak, kamu berisiko menyebabkan teman-temanmu kehilangan rank yang seharusnya tidak terjadi.
Smurf yang Merugikan
Alasan lainnya di balik penggunaan akun sekunder jelas bukan hal yang positif. Kami secara resmi menyatakan akan menindak tegas akun smurf hasil beli maupun akun yang digunakan bersama-sama, terutama jika digunakan untuk melakukan manipulasi ranked. Sarana utama pencurian rank adalah dengan akun bersama, baik secara langsung dengan booster maupun secara tidak langsung sebagai hitchhiker, karena masuknya akun dengan rating rendah merupakan bahan bakar yang diincar para booster.
Meski kami sebenarnya lebih suka mem-ban mereka secara permanen hingga ke akar-akarnya, hal itu tidaklah memungkinkan. Sama seperti para cheater sebelumnya, booster juga sudah lama memutuskan untuk tidak bermain jujur. Malah, banyak dari mereka yang melakukan cheat pada akun pelanggannya, seandainya hal itu tidak berisiko menyebabkan akun pelanggannya terkena ban dan memicu sengketa pembayaran PayPal. Sebagian booster tidak memiliki “akun utama” yang bisa kami bekukan, karena mereka berinteraksi dengan game menggunakan akun milik orang lain, serta perangkat keras yang bisa diganti atau diatur ulang dengan cepat (persis seperti cheater).

Pada akhirnya, pemilik akun harus bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan menggunakan akun tersebut. Karena itu, demi kejelasan, berikut adalah daftar beberapa perilaku yang dapat menyebabkan akunmu ditangguhkan dan rank-nya dihapus:
Berbagi akses akun dengan layanan boosting untuk menaikkan rank
Membayar booster untuk bermain bersamamu menggunakan akun smurf, meski kamu sendiri bermain menggunakan akun utama
Memberikan akun yang rating-nya rendah kepada teman yang rating-nya lebih tinggi agar bisa bermain bersamamu
Membeli atau meminjam akun yang rating-nya rendah untuk merekam cuplikan aksi permainan demi konten media sosial
Sengaja kalah demi menurunkan rank akun, terutama jika kamu juga menggunakan akun tersebut untuk boost pemain lain
Menghindari sanksi ban chat pada akun utama dengan membeli akun baru, padahal keluar rumah itu gratis
Menaikkan rank teman dengan cara bermain bersama mereka menggunakan akun yang sebenarnya bukan milikmu
Bermain dalam tim berisi 5 orang, dan semuanya, termasuk kamu, menggunakan akun smurf, sambil mempromosikan layanan penjualan akun di semua chat
Aku mengerti sekarang. Beberapa hal di atas, terutama yang terakhir, memang sulit dihindari. Namun, berkat “tangan tak terlihat” dalam ekonomi mikro, kami tahu bahwa dengan mempersulit penggunaan layanan boosting dan smurfing, permintaan pelanggan bisa ditekan, sehingga prospek bisnis layanan tersebut akan menurun, dan kualitas pertandingan akan meningkat seiring berjalannya waktu. Sebab, ketika biaya untuk memiliki akun cadangan jadi lebih mahal, waktu yang digunakan untuk memainkan akun utama pun jadi lebih berharga. Sudah terbukti.
Sebagai informasi tambahan, kamu juga bisa membaca lebih lanjut mengenai strategi penindakan untuk setiap game di bawah ini:
Kualitas Pertandingan
Grafik terakhir ini adalah yang paling menarik, dan itu berkat pengalaman selama delapan minggu di kamp matematika sewaktu aku remaja. Garis-garis di bawah ini, yang diplot pada sumbu Y sebelah kiri, menunjukkan rata-rata jarak deviasi standar setiap pemain dari Matchmaking Rating akun tertingginya saat bertanding. Jadi, jika seorang pemain bertanding menggunakan akun tertingginya (atau akun dengan rating yang setara), skor kontribusinya dalam grafik ini akan bernilai nol (atau mendekati nol). Aku akui, penjelasan ini pun masih sulit dipahami. Jadi, mari kita anggap saja garis merah dan biru ini sebagai indikator kasar untuk mengukur tingkat keadilan pertandingan.

Batang grafik pada sumbu kanan melambangkan keadilan yang mutlak dan tanpa kompromi. Grafik ini ditampilkan dalam format 2D dan dikelompokkan berdasarkan jenis perilaku akun pelanggar sebelum akunnya ditangguhkan. Jadi, kabar baiknya adalah Anti-Boost benar-benar efektif. Kami telah berhasil membalikkan tren yang tadinya mengkhawatirkan. Meskipun layanan boosting kemungkinan besar tidak akan menyerah begitu saja, setidaknya pasar potensialnya kini sudah makin menyusut.
Namun, kabar beratnya, sanksi ban saja tidak cukup untuk mewujudkan pertandingan yang benar-benar adil sesuai harapan. Karena akun baru bisa dibuat dengan sangat mudah dan cepat, kami tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan reaktif saja.
Ke Depannya
Untuk mencegah agar internet tidak makin terjerumus dalam kekacauan tak terkendali akibat interaksi rekursif antar-LLM, kita sebagai komunitas harus memperkuat mekanisme verifikasi kepercayaan. Agar kompetisi game tetap kompetitif dan ruang interaksi manusia tetap terasa manusiawi, kami perlu meningkatkan langkah preemtif berupa verifikasi “bukti hidup” pada perangkat pengguna yang terhubung ke server kami. Dalam bahasa sederhananya, kami perlu memastikan bahwa client game kami dijalankan di perangkat keras sungguhan, dikendalikan oleh manusia sungguhan, serta terhubung dengan neuron sungguhan (yang terakhir ini aku tambahkan supaya aman saja).
Jadi, nanti pasti akan ada langkah-langkah seperti pembatasan MFA atau persyaratan TPM 2.0 dalam waktu dekat, tetapi juga akan ada penurunan jumlah bot, perbaikan matchmaking, serta sanksi yang lebih tegas. Dengan menggunakan verifikasi perangkat keras Vanguard, kami berencana mempertahankan proses pendaftaran yang relatif mudah tanpa mengorbankan kualitas pertandingan ataupun terus menghadapi risiko dari pelaku pelanggaran. Pantau terus informasi selanjutnya mengenai waktu pemberlakuan persyaratan ini dan pada rank apa saja. Namun, jika ingin bersiap lebih awal sebelum aturan tersebut resmi diterapkan, kamu sudah bisa memanfaatkan fitur Vanguard Pre-Check saat ini juga.
Penutup
Baiklah, sekian dulu untuk kali ini. Di dunia ketika kata-kata sudah makin kehilangan maknanya, senang sekali rasanya kamu bisa meluangkan waktu untuk membaca sekilas artikel ini. Ingatlah bahwa bermain jujur adalah cara terbaik, dan jika kamu mencurangi komunitas, kamu sebenarnya merugikan dirimu sendiri. Namun, jika itu tidak berhasil dan kamu akhirnya terkena ban karena melakukan boosting, silakan ajukan pengembalian dana kepada booster-mu dengan alasan layanan tidak dipenuhi. Memang begitulah cara kerja pasar bebas.
Terima kasih.


Phillip Koskinas
Pada 1414, Phillip menciptakan praktik cheating. Belakangan, hal itu dianggap keliru, sehingga kini dia harus berupaya melenyapkannya dari semesta ini, atau menghadapi risiko dikirim kembali ke dimensi penderitaan. Di luar kesibukannya membasmi pelaku cheating, Phillip mengelola portofolio integritas kompetitif Riot, termasuk Vanguard, anti-cheat yang membuat pelaku cheating kelabakan.




